10 Sep
Sabut kelapa, kapuk randu, oyong, hingga arang sekam yang mudah dijumpai di lingkungan sekitar kini memiliki nilai baru. Melalui Program Pilar Non Akademik, para siswa binaan Yayasan Astra - Yayasan Pendidikan Astra Michael D. Ruslim (YPA MDR) berinovasi mengolah bahan-bahan tersebut menjadi media tanam hidroponik sebagai alternatif pengganti rockwool dalam Lomba Hydroponic Improvement Contest 2025 (HIRO).
Yayasan Astra - YPA MDR membimbing siswa untuk mengembangkan kreativitas sekaligus kepedulian terhadap lingkungan melalui pembelajaran hidroponik. Tantangan tersebut mendorong sekolah binaan memanfaatkan potensi daerah sebagai solusi yang lebih mudah diperoleh dan berkelanjutan.
SMPN 1 Borong, SD Inpres Peot, SMKN 1 Borong di Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur, serta SMKN 1 Pandak di Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta mengembangkan media tanam dari serat sabut kelapa (coco fibre). Sementara itu, SMPN 11 Borong memanfaatkan oyong (gambas), SMPN 13 Borong menggunakan kapuk randu, dan SD Inpres Kota Ndora berinovasi dengan arang sekam sebagai media semai hidroponik.

"Melalui inovasi ini, siswa belajar bahwa solusi tidak selalu harus berasal dari bahan yang mahal. Dengan memanfaatkan potensi di sekitar, mereka mampu menghasilkan karya yang bermanfaat sekaligus lebih peduli terhadap lingkungan," ujar Nurhasnah Usman dari SMPN 1 Borong.
Beragam inovasi tersebut menunjukkan bahwa pembelajaran yang dikembangkan Yayasan Astra - YPA MDR tidak hanya membangun keterampilan siswa, tetapi juga menumbuhkan kemampuan berpikir kreatif, memanfaatkan potensi lokal, serta menghadirkan solusi yang relevan untuk mendukung keberlanjutan program hidroponik di sekolah.